Seorang peserta Seminar emotional release mengatakan tulisan saya akhir2 ini terlalu berani,
Ya itu saya akui walau resiko yang terjadi saya bukan hanya follower yang berkurang, like yg lebih sedikit dan cenderung hadirnya para antagonist.
Sementara seorang sahabat mengatakan “ngapain sih pak cari perkara, nulis2 yang sensitif2 gitu”
Menurut saya Sudah seharusnya kita beranjak dari fasilitas pelindung dari segala sesuatu yg dianggap sensitif menjadi fasilitas pemberdaya
Agama, agnostic, atheisme, komunisme, sex, LGBT dan hal sensitif lainnya perlu lebih sering di tulis atau dialog kan dengan pikiran tenang tanpa memaksa, menghakimi menyerang pribadi atau ingin mengubah keyakinan seseorang.
Harapannya adalah membuat kita semakin terbuka dan kaya akan pemahaman yg berbeda.
Bukan toleransi namun lebih mengapresiasi pada hal yang berbeda dengan keyakinan yang kita genggam.
Mengapa bukan toleransi karena kata toleran yg dalam bahasa aslinya bermakna “to put up with” atau “bertahan” tidaklah cocok untuk digunakan dalam berhubungan pada kepercayaan orang lain.
dalam bahasa Indonesia “Adi mentoleransi Ida” diartikan bahwa Ida melakukan kesalahan/hal yg tak pantas namun Adi masih bisa menerima perlakuan Ida tersebut.
Apresiasi adalah menghargai, menghargai apapun kepercayaan orang di depan kita, termasuk kalau orang tersebut memilih untuk tidak mempercayai adanya Tuhan.
menghakimi, baik secara pikiran, verbal atau tindakan bukanlah penyelesaian terbaik, malah mereka yang menganggap dirinya baik/lebih baik menjadi tidak lebih baik ketika melakukan intimidasi dengan maksud merubah kepercayaan yang dianggap salah tersebut.
disisi lain, mereka yg diancam, dipaksa, tidak serta merta berubah, malah kecenderungannya mempunyai perasaan marah, benci bukan hanya pada yang memaksa tapi juga pada kepercayaan yang dianut orang yang memaksa tersebut.