Travel

Perjalanan Bermakna

0
Please log in or register to do it.

Oleh: Miranti Rohmanda

#1

Peken Banyumasan : Upaya Peremajaan Kota Lama

Kita sepakat bahwa 2022 adalah ajang untuk memulai kehidupan baru setelah sempat terjeda karena pandemi selama dua tahun. Berbagai aktivitas mulai dirancang ulang, digelar, serta coba untuk dilanjutkan secara sistematis. Gilang Ramadhan, seorang dosen di Institut Teknologi Telkom Purwokerto melihat peluang tersebut. Ia bersama timnya menginisiasi sebuah acara yang ditujukan untuk masyarakat Banyumas bernama Peken Banyumasan. “Connecting the dots” adalah visi dari acara tersebut.

Peken Banyumasan pertama kali digelar pada Maret 2022, ketika pembatasan kontak fisik sudah dibebaskan. Merespon Kota Lama Banyumas yang memiliki potensi besar sebagai tempat kumpul warga Banyumas, Gilang Ramadhan atau yang kerap disapa Gram mengusung konektivitas antara masa lalu (sejarah) Banyumas dengan masa depan. Culture Creative Circular. Melihat dari mana kita berasal, apa yang kita miliki saat ini, dan kemana hendak kita menuju. Untuk itu, hal-hal yang diwadahi oleh Peken Banyumas tidak terikat nilai tradisional saja, tapi juga memiliki nilai modern dan kemungkinan untuk mengkolaborasikannya.

Secara umum, gambaran Peken Banyumasan terlihat seperti festival sekaligus pameran. Dari gerbang Kota Lama, kita disuguhi berbagai stan makanan dan minuman, dari tradisional hingga modern. Ada juga stan kerajinan, fotografi, karikatur, hingga dolanan Banyumas. Tidak hanya itu, dalam Peken Banyumasan juga terdapat panggung hiburan yang diisi berbagai penampilan, mulai dari Lengger Banyumas hingga kentongan.

Sampai Desember 2022, Peken Banyumasan sudah berlangsung hingga 13 kali. Bisa dibilang, acara ini cukup konsisten berjalan. Gram mengungkapkan bahwa Peken Banyumasan tidak hanya menargetkan kuantitas untuk keberlangsungannya, namun lebih pada apa yang bisa didapat orang setelah datang di acara ini, baik untuk pengisi maupun pengunjung. Mengusung sistem hexa helix, yaitu menyinergikan 6 komponen; akademisi, praktisi, pemerintah, komunitas, media, dan influencer, penyelenggara Peken Banyumasan yakin bahwa keberlangsungan ini bisa dijaga dan menyebarkan semangat pada warga Banyumas.

Saya sempat mengunjungi Peken Banyumasan Mrapat 13 dan cukup menikmati suasana yang terbangun di sana. Saya bahkan mengikuti workshop pembuatan gelang Apik Pernik dari benang yang digelar oleh Roro, pengrajin gelang asal Purbalingga. Kenyataan bahwa Roro bukan berasal dari Banyumas juga sempat mengagetkan saya, bahwa ternyata Peken Banyumasan tidak hanya menjaring masyarakat Banyumas saja, namun sudah merambah lebih luas.

Saya juga sempat berbincang dengan dua orang pengunjung lain yang berada di stan Apik Pernik. Mereka adalah mahasiswa Unsoed yang sengaja datang untuk mengisi waktu luang di akhir minggu. Sofie, salah satunya, datang bersama teman-teman lain menggunakan bus Trans Banyumas. Trans Banyumas merupakan partner resmi dari Peken Banyumasan yang mengangkut pengunjung dari Purwokerto menuju ke Kota Lama Banyumas dengan titik penjemputan di IT Telkom Purwokerto. Kerja sama ini menguntungkan pengunjung, namun sayang titik jemputnya belum tersebar sehingga masyarakat yang berasal jauh dari titik penjemputan harus menempuh perjalanan dua sampai tiga kali lebih panjang.

Meskipun masih ada kekurangan, namun apresiasi setinggi-tingginya pada penyelenggara Peken Banyumasan yang berani membuka wadah dan membagikan wajah Kota Lama bagi masyarakat terutama generasi muda dengan pengemasan yang menarik. Saya sendiri berharap Peken Banyumasan mampu mewujudkan visinya untuk connecting the dots dan memberikan wadah bagi enam elemen yang telah disebutkan untuk berkolaborasi secara maksimal demi Banyumas yang lebih kreatif.

Merawat Jiwa dalam Tubuh Anak-Anak
Memories
Ad Area

Reactions

0
0
0
0
0
0
Already reacted for this post.

Reactions

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *