Travel Ulasan

Kembali Konser

0
Please log in or register to do it.

Sebuah Liputan Economy Project 2022

 

#1

Oleh: Ai

Antrian mengular di pintu masuk Gelora Satria Purwokerto pada 3 Desember 2022. Stan makanan dan suvenir berjejer rapi dari gerbang yang baru dibuat persis di depan pintu area voli pantai hingga mendekati area panjat tebing. Muda-mudi yang berada di sana serempak mengenakan gelang kertas bertuliskan Economy Project. Antrian dimulai dari pukul 15.00 waktu setempat. Para pengantri ini sepakat bahwa mereka hadir untuk sebuah konser musik.

Acara ini dihelat oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed di bawah bendera BEM Fakultas dengan nama Economy Projet. Economy Project merupakan acara tahunan berbentuk konser musik dan biasanya mengundang artis-artis ibukota sebagai bintang tamu utamanya. Economy Project 1 diadakan pada 2019 dengan bintang tamu Pamungkas dan Reality Club. Saat itu tiket dijual dari harga Rp 35.000 sampai Rp 60.000. Pada Economy Project 1, FEB terhitung berhasil mengumpulkan penikmat musik populer di Purwokerto karena tiket yang terjual mencapai dua ribu. Namun pandemi mengakibatkan Economy Project di tahun berikutnya diadakan virtual melalui Youtube saja. Sementara itu, Economy Project di tahun 2021 berhasil terselenggara secara daring dengan prokes yang ketat. Membawa Ardhito Pramono sebagai bintang tamu, harga tiket yang dibanderol cukup terjangkau. Mulai dari Rp 15.000,- hingga Rp 25.000,- saja.

Serba-serbi pandemi memang menjadi tantangan besar bagi pada penikmat konser musik. Sebuah kegiatan yang mengharuskan kontak secara langsung itu sangat sulit diselenggarakan. Sama seperti konsep pertunjukan lain, konser musik sempat mati untuk beberapa waktu selama pandemi. Karena itulah, di tahun ini, Economy Project mengangkat tema Retrouvailles–diambil dari bahasa Perancis yang berarti perasaan bahagia ketika bertemu dengan seseorang setelah sekian lama.

Melalui tema Retrouvailles, panitia mengajak penikmat musik di Purwokerto untuk merasakan kembali euforia ketika bisa bersama-sama menyanyi bareng idola secara langsung. Berdesak-desakan dengan orang lain dan bergoyang mengikuti dentuman musik yang menggelegar melalui pengeras suara di atas panggung.

Economy Project 2022 mendatangkan band-band lokal seperti SASMI, Sweet After Tears, Hyndia, dan DJ Vans. Sementara itu, artis ibukota yang berhasil didatangkan yaitu Ada Band dan Sheila On 7. Maka tidak heran jika pantia berani memasang tiket dari harga Rp 150.000,- hingga Rp 200.000,- dan ludes dalam rentang waktu tiga minggu saja.

Acara yang berlangsung dari pukul 15.00 terlihat lancar dan aman. Bukan hanya penonton saja, pasukan pengaman juga terlihat ramai demi keamanan acara. Rekayasa alur lalu lintas pun dilakukan demi menghindari macet yang mengakibatkan kecelakaan.

Satu hal yang terlihat sedikit menurunkan keriuhan acara ini adalah hujan. Hujan mengguyur dan mengakibatkan area konser becek. Penonton yang sebelumnya sudah diimbau untuk membawa mantel pun segera mengenakannya. Tepat pada saat itu, acara sedang diisi oleh DJ Vans. Namun hujan tidak menyurutkan semangat penonton untuk meramaikan acara. Begitu juga saat Naga, vokalis Ada Band saat ini, masuk dan membawakan lagu Langit Tujuh Bidadari. Beberapa penonton yang mulanya berteduh di area stadion, buru-buru merapat untuk bernyanyi bersama. Hujan terus mengguyur hingga Ada Band membawakan lagu terakhir.


Seolah ada mantra yang digunakan, rintik air mereda ketika Duta cs masuk dan menyanyikan Pejantan Tangguh. Penonton yang kebanyakan adalah SheilaGank memekak dan membuat suasana semakin seru. Di akhir, Sheila On 7 berhasil membuat seluruh penonton berjingkrak dengan Melompat Lebih Tinggi.

Adanya Ada Band dan Sheila On 7 membuat konser ini dihadiri juga oleh kalangan generasi Y atau milenial. Berkumpulnya tujuh ribu lima ratus orang di Gelora Satria Purwokerto membuktikan bahwa keadaan kembali pulih pasca pandemi. Panitia yang mempersiapkan acara ini selama 6 bulan terlihat cukup berhasil membuat Retrouvailles di hati penonton. Hal yang perlu diapresiasi setelah munculnya berbagai keluhan penonton mengenai teknis penukaran tiket.

Pasalnya, tiket yang berbentuk elektronik mesti ditukar di lapangan basket kampus FEB, tempat yang cukup jauh dari GOR Satria dan dianggap menyusahkan penonton, terutama penonton dari luar kota. Belum lagi, masalah parkir penonton pada saat penukaran tiket yang terletak jauh dari lapangan FEB Unsoed, yaitu di depan Purwokerto City Walk. Beberapa protes pun dilayangkan melalui media sosial seperti instagram dan twitter. Namun ternyata cara ini cukup berhasil untuk menekan angka kemacetan di jalan raya dan pintu masuk GOR Satria. Dengan jarak ini, penonton semakin tertib dan tidak terjadi penumpukan yang berpotensi menimbulkan kericuhan.
Produser Film Asal Banyumas, Raih Penghargaan Internasional
Ad Area

Reactions

0
0
0
0
0
0
Already reacted for this post.

Reactions

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *