Oleh: Shelma Audira
Produser Film Asal Banyumas, Raih Penghargaan Internasional
#1
Ditulis oleh: Shelma Audira
Ahtaka Oklando Adriansyah Zen atau kerap disapa Zen merupakan seorang produser sekaligus editor dari film “Nostalgi” yang berhasil terpilih untuk tayang di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) tahun 2022. Pria kelahiran 1998 ini merupakan pemuda asal Banyumas yang kini berdomisili di Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. Ia aktif berkecimpung di dunia perfilman sejak SMK. Dengan latar belakang pendidikan jurusan broadcasting di SMK 3 Banyumas, ia menjadi pribadi yang tekun dan mumpuni di bidang perfilman. Ia mulai tertarik dengan dunia film sejak di bangku Sekolah Menengah Pertama. Baginya, film dapat menjadi sebuah wadah untuk berbicara. Zen yang sejak kecil kurang pandai dalam mengutarakan suara dalam dirinya lewat lisan, seperti menemukan medium untuk bersuara saat dirinya menggarap sebuah film.
Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) sendiri merupakan festival film tahunan di Indonesia sejak 2006. Festival ini menghadirkan sinema dari negara-negara di lingkup Asia, salah satunya Indonesia. JAFF tahun ini merupakan yang ke 17 dan menghadirkan 137 film dari 19 negara kawasan Asia Pasifik dalam program kompetisi dan non kompetisi. Adapun untuk pendaftar di tahun ini melebihi rekor, yakni lebih dari 3000 pendaftar. Tentu bukan ajang seleksi yang mudah untuk diikuti hingga lolos dan terpilih sebagai film yang ditayangkan di festival tersebut. JAFF pada tahun ini digelar di Yogyakarta sepanjang 26 November hingga 3 Desember 2022 dengan tema “Blossom” atau dalam bahasa Indonesia artinya mekar. Tema ini menyiratkan fase baru yang penuh energi, kreativitas, serta harapan kepada para sineas untuk kembali berkarya dan pulih dari keterpurukan pandemi dua tahun terakhir. Film “Nostalgi” yang diprakarsai oleh Zen, dan beberapa kawan seperjuangannya, seperti Juan Aldiansyah sebagai sutradara dan Alfan Fahmi sebagai kameramen yang juga berasal dari Banyumas, tayang di XXI Empire Yogyakarta, 29 November 2022.
Film ber-genre post apocalypse ini terinspirasi dari situasi pandemi yang mengancam serta menimbulkan perubahan pada tatanan kehidupan manusia. Dengan durasi waktu 15 menit, film ini secara apik menyuguhkan perjuangan seorang Dirman, berusia 60 tahun, untuk meneruskan hidup di bumi pasca merebaknya virus dan berbagai kekacauan yang hampir menimbulkan kepunahan populasi manusia. Film “Nostalgi” berbicara tentang sebuah hidup yang diupayakan untuk terus berjalan, meskipun masa lalu senantiasa menjadi alarm yang mengusik kehidupan. Satu hal yang pasti, film ini nmengajarkan kita tentang betapa seharusnya kita menghargai hal-hal kecil dalam hidup yang sementara. Sebuah karya yang mampu menjadi ‘teman’ untuk kita yang berduka atas kehilangan dan melanjutkan hidup atas kehendak. Ia mengingatkan bahwa perjuangan kita tidak sendirian.
Sebelum menggarap film “Nostalgi”, Zen juga beberapa kali terlibat dalam pembuatan film-film pendek, seperti film “Melati” sebagai line producer pada tahun 2018, film “Kiri Mati” sebagai sutradara pada tahun 2018, film “Labuhan” sebagai sutradara pada tahun 2017, dan film “Jangan Pergi Anisa” sebagai sutradara sekaligus editor pada tahun 2015, serta berbagai garapan film lainnya. Selain menggarap film, Zen juga memiliki rumah produksi “Buat Saja” yang dirintisnya sejak tahun 2018. “Kalau bikin film, jangan terpaku sama alat,” ungkapnya di tengah obrolan kami. Ia memberikan sebuah pandangan bahwa untuk menciptakan sebuah karya seperti film, memang benar adanya bahwa mungkin kita membutuhkan peralatan syuting yang bagus, namun tidak dipungkiri bahwa peralatan bukan satu-satunya penentu keapikan sebuah film. Kualitas film tidak hanya bergantung pada alat, namun ide cerita yang dikemas apik, skenario yang matang, penguatan karakter tokoh, serta berbagai kematangan faktor lain yang melahirkan sebuah film berbobot.
Dalam proses pembuatan film “Nostalgi”, Zen menuturkan bahwa alat yang digunakan terbatas. Maka dari itu, ia bersama tim meletakan kekuatan pada aspek cerita serta ide-ide alternatif untuk mewujudkan naskah. Ia juga menyampaikan bahwa totalitas tim sangat diperlukan dalam pembuatan film, sebab tim yang solid akan berpengaruh besar terhadap bagaimana film itu tercipta.
Dari proses terciptanya film Nostalgi, kita bisa belajar untuk lebih berani dalam berkarya dan mulailah sebuah karya dengan “privilege” sederhana yang kita miliki dan ada di sekitar kita. Ponsel yang terdapat fitur kamera, juga merupakan privilege, bukan? Atau mungkin privilege lain yang tidak kita sadari, namun kita memilikinya. Jadi, berkarya itu selalu bisa dimulai dari sekarang. Selagi kemauan dan mimpi-mimpi beriringan, jalan dan kesempatan akan terbuka dengan sendirinya.
Untuk mengenal lebih jauh tentang sosok Zen, jejak bisa ditemukan di instagram @ahtakazen.
Ditulis oleh: Shelma AudiraAhtaka Oklando Adriansyah Zen atau kerap disapa Zen merupakan seorang produser sekaligus editor dari film “Nostalgi” yang berhasil terpilih untuk tayang di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) tahun 2022. Pria kelahiran 1998 ini merupakan pemuda asal Banyumas yang kini berdomisili di Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. Ia aktif berkecimpung di dunia perfilman sejak SMK. Dengan latar belakang pendidikan jurusan broadcasting di SMK 3 Banyumas, ia menjadi pribadi yang tekun dan mumpuni di bidang perfilman. Ia mulai tertarik dengan dunia film sejak di bangku Sekolah Menengah Pertama. Baginya, film dapat menjadi sebuah wadah untuk berbicara. Zen yang sejak kecil kurang pandai dalam mengutarakan suara dalam dirinya lewat lisan, seperti menemukan medium untuk bersuara saat dirinya menggarap sebuah film.
Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) sendiri merupakan festival film tahunan di Indonesia sejak 2006. Festival ini menghadirkan sinema dari negara-negara di lingkup Asia, salah satunya Indonesia. JAFF tahun ini merupakan yang ke 17 dan menghadirkan 137 film dari 19 negara kawasan Asia Pasifik dalam program kompetisi dan non kompetisi. Adapun untuk pendaftar di tahun ini melebihi rekor, yakni lebih dari 3000 pendaftar. Tentu bukan ajang seleksi yang mudah untuk diikuti hingga lolos dan terpilih sebagai film yang ditayangkan di festival tersebut. JAFF pada tahun ini digelar di Yogyakarta sepanjang 26 November hingga 3 Desember 2022 dengan tema “Blossom” atau dalam bahasa Indonesia artinya mekar. Tema ini menyiratkan fase baru yang penuh energi, kreativitas, serta harapan kepada para sineas untuk kembali berkarya dan pulih dari keterpurukan pandemi dua tahun terakhir. Film “Nostalgi” yang diprakarsai oleh Zen, dan beberapa kawan seperjuangannya, seperti Juan Aldiansyah sebagai sutradara dan Alfan Fahmi sebagai kameramen yang juga berasal dari Banyumas, tayang di XXI Empire Yogyakarta, 29 November 2022.
Film ber-genre post apocalypse ini terinspirasi dari situasi pandemi yang mengancam serta menimbulkan perubahan pada tatanan kehidupan manusia. Dengan durasi waktu 15 menit, film ini secara apik menyuguhkan perjuangan seorang Dirman, berusia 60 tahun, untuk meneruskan hidup di bumi pasca merebaknya virus dan berbagai kekacauan yang hampir menimbulkan kepunahan populasi manusia. Film “Nostalgi” berbicara tentang sebuah hidup yang diupayakan untuk terus berjalan, meskipun masa lalu senantiasa menjadi alarm yang mengusik kehidupan. Satu hal yang pasti, film ini nmengajarkan kita tentang betapa seharusnya kita menghargai hal-hal kecil dalam hidup yang sementara. Sebuah karya yang mampu menjadi ‘teman’ untuk kita yang berduka atas kehilangan dan melanjutkan hidup atas kehendak. Ia mengingatkan bahwa perjuangan kita tidak sendirian.
Sebelum menggarap film “Nostalgi”, Zen juga beberapa kali terlibat dalam pembuatan film-film pendek, seperti film “Melati” sebagai line producer pada tahun 2018, film “Kiri Mati” sebagai sutradara pada tahun 2018, film “Labuhan” sebagai sutradara pada tahun 2017, dan film “Jangan Pergi Anisa” sebagai sutradara sekaligus editor pada tahun 2015, serta berbagai garapan film lainnya. Selain menggarap film, Zen juga memiliki rumah produksi “Buat Saja” yang dirintisnya sejak tahun 2018. “Kalau bikin film, jangan terpaku sama alat,” ungkapnya di tengah obrolan kami. Ia memberikan sebuah pandangan bahwa untuk menciptakan sebuah karya seperti film, memang benar adanya bahwa mungkin kita membutuhkan peralatan syuting yang bagus, namun tidak dipungkiri bahwa peralatan bukan satu-satunya penentu keapikan sebuah film. Kualitas film tidak hanya bergantung pada alat, namun ide cerita yang dikemas apik, skenario yang matang, penguatan karakter tokoh, serta berbagai kematangan faktor lain yang melahirkan sebuah film berbobot.
Dalam proses pembuatan film “Nostalgi”, Zen menuturkan bahwa alat yang digunakan terbatas. Maka dari itu, ia bersama tim meletakan kekuatan pada aspek cerita serta ide-ide alternatif untuk mewujudkan naskah. Ia juga menyampaikan bahwa totalitas tim sangat diperlukan dalam pembuatan film, sebab tim yang solid akan berpengaruh besar terhadap bagaimana film itu tercipta.
Dari proses terciptanya film Nostalgi, kita bisa belajar untuk lebih berani dalam berkarya dan mulailah sebuah karya dengan “privilege” sederhana yang kita miliki dan ada di sekitar kita. Ponsel yang terdapat fitur kamera, juga merupakan privilege, bukan? Atau mungkin privilege lain yang tidak kita sadari, namun kita memilikinya. Jadi, berkarya itu selalu bisa dimulai dari sekarang. Selagi kemauan dan mimpi-mimpi beriringan, jalan dan kesempatan akan terbuka dengan sendirinya.
Untuk mengenal lebih jauh tentang sosok Zen, jejak bisa ditemukan di instagram @ahtakazen.
Ad Area
Reactions
Reactions
1