Oleh: Indri Lestari
Apakah Rasanya Tetap Sama?
#1
Memang sangat menyeramkan kalau membayangkan kita kembali ke kehidupan di tahun 2020. Tanpa teman, tanpa jalan-jalan, tanpa bioskop, tanpa konser, dan tanpa banyak hal-hal yang mulanya menjadi favorit kita. Kemudian semuanya digantikan dengan layar ponsel pintar. Sekolah daring, nongkrong daring, nobar daring, jalan-jalan virtual dan konser virtual. Kita menerima itu semua karena tidak ada pilihan lain. Yah, ngga papa deh daring-daring gini, daripada mati gaya di rumah.
Kita menjadi lebih dekat dengan teknologi akibat situasi ini. Mau tidak mau, kita harus belajar hal-hal baru yang mulanya tidak pernah kita tahu bahwa teknologi itu ada. Kita menjadi familiar dengan google classroom karena tidak memungkinkan untuk sekolah tatap muka. Kita bertemu melalui Zoom yang sebelumnya jarang sekali kita gunakan. Kita jadi menemukan cara untuk jalan-jalan tanpa harus meninggalkan kamar menggunakan Google Earth. Atau kita jadi tahu bahwa sebenarnya bisa lho konser dilakukan secara virtual. Yah, meskipun tetap tidak semenyenangkan datang ke konser beneran.
Teknologi-teknologi yang kita pelajari dan kita gunakan selama 3 tahun terakhir ini banyak sekali membantu kehidupan kita. Hidup jauh lebih mudah dengan kemajuan teknologi yang pesat selama pandemi. Pandemi membuat kita, mau tidak mau, harus belajar banyak hal baru untuk mengakali keterbatasan supaya kehidupan bisa terus berjalan.
Teknologi adalah penyelamat kita dikala pandemi. Tapi apakah teknologi-teknologi itu bisa menghidupkan jiwa kita sepenuhnya? Tapi apakah kehidupan sebelum dan sesudah pandemi-mu tetap sama? Percayakah kamu dengan statement bahwa kepribadian kita berubah akibat pandemi?
Sebenarnya, ada atau tidaknya pandemi, kepribadian setiap manusia pasti berubah. Cepat atau lambat. Fenomena ini dalam dunia psikologi disebut sebagai ‘Efek Michelangelo’. Dikutip dari Hartstein dalam kompas.com, Efek Michelangelo adalah gagasan bahwa kepribadian kita berubah di saat kita mendapat dukungan dari orang lain, atau ada perubahan hidup. Namun pandemi membuat hal ini lebih cepat terjadi dan dampaknya lebih signifikan. Entah itu perubahan ke arah yang positif ataupun negatif.
Perubahan hidup signifikan yang kita alami adalah pembatasan sosial. Tidak ada kesempatan untuk keluar rumah. Semua serba virtual, termasuk bersekolah.
Pembelajaran daring dan luring tentu sangat berbeda. Jika saat pembelajaran luring kita harus mengusahakan yang terbaik karena selalu diawasi oleh guru, dalam pembelajaran daring kita bisa mematikan suara dan kamera sehingga guru tidak mengetahui apa yang kita lakukan; Serius belajar atau kembali tertidur saat kbm berlangsung. Kita menjadi terbiasa berinteraksi melalui layar, entah itu berupa panggilan video ataupun pesan singkat. Hal ini menyebabkan kita akan merasa asing dengan interaksi di kehidupan nyata setelah dua tahun hanya di dalam rumah. Butuh beberapa saat bagi kita untuk mengetahui bagaimana cara berbicara dengan orang-orang secara langsung.
Jurnal PLOS One dalam vice.com mengungkapkan bahwa kepribadian anak muda berubah paling drastis dibanding kelompok umur lainnya selama pandemi karena kurangnya bersosialisasi dengan teman-temannya. Peneliti mengamati penurunan extraversion (kemampuan berinteraksi), openness (berpikir kreatif), agreeableness (mudah akur), dan conscientiousness (bertanggung jawab) pada peserta dari awal pandemi. Jurnal PLOS One dalam cncbindonesia.com juga mengatakan bahwa setelah pandemi, kepribadian seseorang mungkin telah redup sehingga mereka menjadi kurang ekstrovert dan kreatif, tidak menyenangkan dan kurang teliti.
Kita, sadar ataupun tidak, pasti mengalami perubahan kepribadian ini juga. Terbiasa sendirian dalam waktu yang lama membuat kita cenderung malas untuk menanyakan kabar teman-teman. Atau sekedar memberi kejutan kepada teman ketika ia berulang tahun. Intensitas kita main bareng atau sekedar nongkrong di kafe menjadi lebih jarang dibandingkan saat sebelum pandemi. Kita jadi lebih suka berada di rumah sepanjang hari kemudian menonton drama korea, atau membaca buku atau melakukan hal lain yang bisa dilakukan di rumah. Kita berpikir bahwa kalau bisa dikerjakan di rumah, kenapa harus keluar rumah? Kita berubah menjadi orang yang kurang peduli dengan hal-hal di sekitar kita.
Kita harus menyadari bahwa jika terus seperti itu, mungkin kita akan kehilangan rasa empati. Kita akan kehilangan banyak teman. Kita akan kehilangan kesempatan untuk belajar dari orang-orang yang seharusnya kita temui. Kita akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan diri.
Namun, saat ini pandemi sudah berakhir. Saatnya kita memulihkan diri dengan cara keluar dari rumah. Menonton konser musik yang sudah digelar dimana-mana. Menonton bioskop. Nongkrong di kafe untuk sekedar mengobrol dengan teman. Bertemu dengan banyak orang agar kita menjadi tahu tentang banyak hal. Kepribadian kita memang berubah, disadari atau tidak, signifikan atau tidak. Meski begitu, sama ataupun berbeda rasanya, kehidupan kita sebelum dan setelah pandemi harus berjalan sama baiknya.
Sumber: https://www.vice.com/id/article/93agdy/kepribadian-kita-kemungkinan-berubah-akibat-pandemi
https://lifestyle.kompas.com/read/2020/08/28/192241820/pakar-ungkap-bagaimana-pandemi-mengubah-kepribadian-kita?page=all
Apakah Rasanya Tetap Sama: Kehidupanmu Sebelum dan Setelah Pandemi?
Kepribadian kita bisa berubah akibat pandemi. Kalimat ini adalah headline dari sebuah artikel milik Vice.com.Memang sangat menyeramkan kalau membayangkan kita kembali ke kehidupan di tahun 2020. Tanpa teman, tanpa jalan-jalan, tanpa bioskop, tanpa konser, dan tanpa banyak hal-hal yang mulanya menjadi favorit kita. Kemudian semuanya digantikan dengan layar ponsel pintar. Sekolah daring, nongkrong daring, nobar daring, jalan-jalan virtual dan konser virtual. Kita menerima itu semua karena tidak ada pilihan lain. Yah, ngga papa deh daring-daring gini, daripada mati gaya di rumah.
Kita menjadi lebih dekat dengan teknologi akibat situasi ini. Mau tidak mau, kita harus belajar hal-hal baru yang mulanya tidak pernah kita tahu bahwa teknologi itu ada. Kita menjadi familiar dengan google classroom karena tidak memungkinkan untuk sekolah tatap muka. Kita bertemu melalui Zoom yang sebelumnya jarang sekali kita gunakan. Kita jadi menemukan cara untuk jalan-jalan tanpa harus meninggalkan kamar menggunakan Google Earth. Atau kita jadi tahu bahwa sebenarnya bisa lho konser dilakukan secara virtual. Yah, meskipun tetap tidak semenyenangkan datang ke konser beneran.
Teknologi-teknologi yang kita pelajari dan kita gunakan selama 3 tahun terakhir ini banyak sekali membantu kehidupan kita. Hidup jauh lebih mudah dengan kemajuan teknologi yang pesat selama pandemi. Pandemi membuat kita, mau tidak mau, harus belajar banyak hal baru untuk mengakali keterbatasan supaya kehidupan bisa terus berjalan.
Teknologi adalah penyelamat kita dikala pandemi. Tapi apakah teknologi-teknologi itu bisa menghidupkan jiwa kita sepenuhnya? Tapi apakah kehidupan sebelum dan sesudah pandemi-mu tetap sama? Percayakah kamu dengan statement bahwa kepribadian kita berubah akibat pandemi?
Sebenarnya, ada atau tidaknya pandemi, kepribadian setiap manusia pasti berubah. Cepat atau lambat. Fenomena ini dalam dunia psikologi disebut sebagai ‘Efek Michelangelo’. Dikutip dari Hartstein dalam kompas.com, Efek Michelangelo adalah gagasan bahwa kepribadian kita berubah di saat kita mendapat dukungan dari orang lain, atau ada perubahan hidup. Namun pandemi membuat hal ini lebih cepat terjadi dan dampaknya lebih signifikan. Entah itu perubahan ke arah yang positif ataupun negatif.
Perubahan hidup signifikan yang kita alami adalah pembatasan sosial. Tidak ada kesempatan untuk keluar rumah. Semua serba virtual, termasuk bersekolah.
Pembelajaran daring dan luring tentu sangat berbeda. Jika saat pembelajaran luring kita harus mengusahakan yang terbaik karena selalu diawasi oleh guru, dalam pembelajaran daring kita bisa mematikan suara dan kamera sehingga guru tidak mengetahui apa yang kita lakukan; Serius belajar atau kembali tertidur saat kbm berlangsung. Kita menjadi terbiasa berinteraksi melalui layar, entah itu berupa panggilan video ataupun pesan singkat. Hal ini menyebabkan kita akan merasa asing dengan interaksi di kehidupan nyata setelah dua tahun hanya di dalam rumah. Butuh beberapa saat bagi kita untuk mengetahui bagaimana cara berbicara dengan orang-orang secara langsung.
Jurnal PLOS One dalam vice.com mengungkapkan bahwa kepribadian anak muda berubah paling drastis dibanding kelompok umur lainnya selama pandemi karena kurangnya bersosialisasi dengan teman-temannya. Peneliti mengamati penurunan extraversion (kemampuan berinteraksi), openness (berpikir kreatif), agreeableness (mudah akur), dan conscientiousness (bertanggung jawab) pada peserta dari awal pandemi. Jurnal PLOS One dalam cncbindonesia.com juga mengatakan bahwa setelah pandemi, kepribadian seseorang mungkin telah redup sehingga mereka menjadi kurang ekstrovert dan kreatif, tidak menyenangkan dan kurang teliti.
Kita, sadar ataupun tidak, pasti mengalami perubahan kepribadian ini juga. Terbiasa sendirian dalam waktu yang lama membuat kita cenderung malas untuk menanyakan kabar teman-teman. Atau sekedar memberi kejutan kepada teman ketika ia berulang tahun. Intensitas kita main bareng atau sekedar nongkrong di kafe menjadi lebih jarang dibandingkan saat sebelum pandemi. Kita jadi lebih suka berada di rumah sepanjang hari kemudian menonton drama korea, atau membaca buku atau melakukan hal lain yang bisa dilakukan di rumah. Kita berpikir bahwa kalau bisa dikerjakan di rumah, kenapa harus keluar rumah? Kita berubah menjadi orang yang kurang peduli dengan hal-hal di sekitar kita.
Kita harus menyadari bahwa jika terus seperti itu, mungkin kita akan kehilangan rasa empati. Kita akan kehilangan banyak teman. Kita akan kehilangan kesempatan untuk belajar dari orang-orang yang seharusnya kita temui. Kita akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan diri.
Namun, saat ini pandemi sudah berakhir. Saatnya kita memulihkan diri dengan cara keluar dari rumah. Menonton konser musik yang sudah digelar dimana-mana. Menonton bioskop. Nongkrong di kafe untuk sekedar mengobrol dengan teman. Bertemu dengan banyak orang agar kita menjadi tahu tentang banyak hal. Kepribadian kita memang berubah, disadari atau tidak, signifikan atau tidak. Meski begitu, sama ataupun berbeda rasanya, kehidupan kita sebelum dan setelah pandemi harus berjalan sama baiknya.
Sumber: https://www.vice.com/id/article/93agdy/kepribadian-kita-kemungkinan-berubah-akibat-pandemi
https://lifestyle.kompas.com/read/2020/08/28/192241820/pakar-ungkap-bagaimana-pandemi-mengubah-kepribadian-kita?page=all
Ad Area