Oka Rusmini adalah sosok sastrawan perempuan yang hadir sebagai seorang pengarang atau penulis novel. Dalam penciptaan karyanya, Oka kerap mengangkat tema sosial yang berhubu
ngan dengan perempuan yaitu feminisme. Karya-karyanya yang berupa novel memberikan gambaran secara gamblang tentang kehidupan seorang penduduk Bali dan berbagai hal yang berada di sekitarnya. Hampir semua karya yang ia ciptakan mampu memberikan pengetahuan baru tentang hal-hal yang pada awalnya dianggap tabu. Oka mampu menyajikan tema sosial yang berhubungan dengan perempuan dan berlatar daerah Bali di novel Tarian Bumi.
Novel Tarian Bumi menggambarkan keadaan masyarakat Bali dengan segala masalah kehidupan yang dialami oleh penduduknya karena berhubungan dengan adat istiadat. Adat istiadat yang harus dipatuhi agaknya bertentangan dengan jalan hidup yang para tokoh sedang jalani. Hal itu, menjadi sesuatu yang menarik karena seorang perempuan harus berjuang melawan kehidupan sosialnya yang berarti ia juga harus menentang adat istiadat yang telah ada sejak dahulu.
Oka Rusmini memberikan sosok figur Luh Sekar dan Telaga sebagai representasi bukti nyata bahwa seorang perempuan pantas untuk memperjuangkan hak-haknya. Luh Sekar adalah sosok lemah dan tak berdaya yang terpaksa menikah dengan Tugur, lelaki berperilaku buruk, yang Sekar pilih karena memiliki kasta Brahmana.
“Aku capek miskin, Kenten. Kau harus tau itu. Tolonglah, carikan aku seorang Ida Bagus. Apa pun yang harus kubayar, aku siap! (Tarian Bumi, 2007: 17).
Sekar mendambakan kehidupan yang layak, tidak peduli bagaimana suaminya bersikap padanya saat itu. Berjuang membesarkan Telaga seorang diri menjadikannya sosok wanita kuat dan tangguh yang dapat memberi contoh kepada anak perempuan satu-satunya.
Berbeda dengan Sekar, Telaga, anak perempuannya, justru menginginkan kehidupan yang sederhana dan apa adanya. Ia merupakan perempuan Brahmana yang telah lelah menjalani kekangan adat istiadat yang sangat mengikat. Telaga merasa hidupnya tidak bebas dan tidak seperti orang-orang diluaran sana. Telaga adalah sosok yang sangat berani menentang adat istiadat. Padahal, sudah jelas, ketika ia berani menentangnya maka akan risiko yang harus ditanggung. Adat istiadat merupakan suatu kehormatan bagi masyarakat Bali. Telaga menghargai itu, namun ia tidak bisa terus-terusan hidup dalam lingkaran tersebut. Sampai pada akhirnya Telaga benar-benar berontak dari belenggu sebagai seorang perempuan Brahmana. Ia mencintai laki-laki Sudra, Wayan. Melalui penjelasan di atas, Oka Rusmini memberikan pengertian berupa gambaran nyata kepada para pembaca bahwa seorang perempuan juga berhak untuk berjuang. Terkadang, perempuan dan laki-laki masih dipisahkan secara strata. Posisi laki-laki berada di atas dan posisi perempuan berada di bawah. Hal tersebut mengakibatkan banyak terjadi ketidakadilan. Seperti gambaran pada novel Tarian Bumi, bahwa perempuan Brahmana tidak boleh menikah dengan kasta yang berada di bawahnya, namun seorang laki-laki Brahmana boleh menikah dengan perempuan kasta mana pun. Hal tersebut bukan tentang bagaimana sebuah kodrat laki-laki dan perempuan, namun kembali lagi kepada adat istiadat yang mau tidak mau harus dilakukan.
Kekangan adat yang membuat perempuan tidak mampu bergerak secara bebas. Ia tidak bisa dengan mudah mencari jati dirinya, memperjuangkan haknya, dan mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan. Pemberontakan yang mereka lakukan semata-mata untuk mencari kebahagiaan yang belum mereka dapatkan. Perjuangan untuk keluar dari belenggu yang mengikat juga untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Ketidakbebasan itu menimbulkan budaya patriarki yang semakin menjadi-jadi.
Berdasarkan uraian-uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa seorang perempuan berhak mendapat kesetaraan. Ia berhak hidup sebagai manusia yang merdeka. Perempuan Bali memang terkekang adat dalam menjalankan segala aktivitasnya, namun hal tersebut tidak menghalangi kebebasannya untuk mencari kesetaraan perempuan dan laki-laki. Walaupun harus menentang adat setidaknya lewat novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini ini dapat membuktikan bahwa perempuan memang pantas untuk berjuang demi hidupnya.